Membuat Rantai Peradaban Islam

Membuat
Rantai Peradaban Islam

Aep
Saepudin

Islam merupakan ajaran yang kaffah (sempurna). Ia
mengatur semua urusan kehidupan mulai dari masalah ’hajat kecil’
(pribadi) sampai hajat hidup orang banyak (negara). Tidak ada masalah
sekecil apa pun yang tidak terlingkupi oleh aturan islam.

Islam
adalah agama terbesar di dunia. Ajarannya mampu membangun suatu
peradaban besar yang diakui dalam kancah pergaulan global. 14 abad
lamanya kekuasaan islam telah menaungi sepertiga bagian bumi ini. Di
bawah naungan islamlah perkembangan sains dan teknologi berjalan
seiring dengan peningkatan iman dan takwa. Dengan islamlah, negara
adidaya khilafah islamiyah berkibar dan menyatukan kaum muslimin di
dunia di atas kalimat tauhid.  Negara islam saat itu menduduki posisi
strategis dalam membangun kehidupan manusia menuju perdamaian dan
kesejahteraan.

Sungguh
ironi, mengapa saat ini negara yang berlandaskan dan atau berpenduduk
mayoritas muslim kurang berlaga dalam kancah peradaban dunia seperti
dahulu kala? Mengapa mereka tidak dapat membuat rantai peradaban
islam? Padahal begitu banyak potensi yang dimiliki negara islam.


Potensi
negara-negara islam

Dilihat dari aspek historis, potensi negara islam
sungguh mengagumkan. Negara-negara islam yang ada saat ini merupakan
serpihan sebuah kekuatan besar yang pernah mengelola peradaban di
bumi ini 14 abad lamanya. Dari pemerintahan Rasulullah saw sampai
khilafah Turki Utsmaniyah yang runtuh tahun 1924. Di bawah naungan
khilafah islamiyah, islam berkobar memberi cahaya di kegelapan dunia
yang fana ini.
Negara-negara islam memiliki kesatuan aqidah yaitu
menyembah Tuhan yang Esa, Allah swt. Dengan kesatuan aqidah inilah,
rasa ukhuwah menyatukan hati kaum muslimin, kekuatan besar akan
muncul, kebatilan akan sirna, dan kerusakan dunia akan berkurang.
Kesatuan aqidah merupakan potensi umat islam terbesar yang harus
dipelihara sampai akhir zaman.
Potensi sumber daya alam yang dimiliki negara
islam pun sungguh luar biasa. Indonesia dengan tanahnya yang subur
dan negara Timur Tengah dengan minyaknya yang berlimpah adalah
sebagian kecil dari potensi sumber daya alam dimiliki umat islam.
Berlimpahnya sumber daya alam di
negara-negara islam bahkan membuat iri negara-negara barat. Mereka
berusaha menghancurkan negara islam demi menguasai kekayaan alam umat
islam yang terkandung di bumi ini.


Permasalahan
yang dihadapi negara islam saat ini

Negara-negara islam saat ini sedang mengalami
krisis mulidimensi. Perpecahan telah terjadi dimana-mana. Setiap
golongan membanggakan dirinya sendiri, mereka saling sikut dan
banting antar saudara seiman. Serasa tidak ada toleransi dalam
masalah khilafiah. Mereka merasa dirinya paling benar, saling
mencaci, hingga kasus perang saudara antar golongan pun terjadi.
Kita perlu berkaca pada negara-negara barat.
Mereka sungguh kompak. Antara negara yang
satu dengan yang lain saling bahu membahu membangun kemajuan dan
kesejahteraan. Mereka berhasil menyatukan visi dengan terbentuknya
Uni Eropa. Bahkan saat ini Uni Eropa membuat satu mata uang bersama
yaitu euro.
Ghozwul Fikr yang diluncurkan negara barat
ternyata cukup berhasil memporak-porandakan peradaban yang dibangun
negara islam. Ghozwul fikr telah tampak pada kehidupan umat islam
saat ini. Gaya hidup, entertaintment, pakaian, pola makanan sampai
kerangka  berfikir umat ini telah terbumbui sikap kebarat-baratan
yang jauh dari kepribadian islam. Barat berhasil menanakan
benih-benih al wahn yang membuat umat islam lemah dan tak
berdaya dalam mencapai kematangan dirinya apalagi membangun kemajuan
negara.
Saat ini mayoritas negara islam masih menyandang
status negara berkembang. Hal ini disebabkan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang diraih negara islam jauh tertinggal
dari negara barat. Semangat negara islam dalam membangun kemajuan
teknologi, mayoritas masih kurang. Hanya sebagian kecil dari negara
yang berafiliasikan islam yang peduli terhadap pengembangan IPTEK
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
tertinggal membuat posis negara muslim dalam kancah pergaulan global
menjadi sulit. Negara muslim tidak dapat menduduki puncak
kepemimpinan dunia. Hal ini menyebabkan penentu kebijakan global
dipegang oleh negara maju yang cenderung jauh dari keadilan.
Pantaslah negara islam saat ini porak-poranda diotak-atik oleh negara
maju (negara barat).


Solusi

Negara-negara
islam harus membangun rantai peradaban islam dalam bentuk persatuan
dan kekuatan bersama dalam menghadapi kancah pergaulan global.
Persatuan itu dilandasi dengan ikatan ukhuwah yang erat. Merasa
senasib dan sepenanggungan. Mereka hendaknya mempunyai kesatuan visi
dan ideologi (islam) yang diwujudkan dalam bentuk uni negara islam
dunia
. Tinggalkan egoisme, munculkan solidaritas dan nasionalisme
islam yang berlandaskan kesatuan aqidah (rabb yang Ahad, Allah) bukan
wilayah.
Umat
islam wajib melakukan ghozwul fikr balik terhadap barat. Hal
ini dapat dilakukan dengan menampilkan bahwa islam itu indah dan
moderat, tidak ekstrimis, penuh dengan kedamaian dan kesejahteraan,
serta sesuai dengan perkembangan zaman. Materi keislaman hendaknya
menjadi main menu pada kurikullum pendidikan di negara yang
mayoritas penduduknya muslim. Karena melalui jalur pendidikanlah,
berbagai pemikIran cemerlang yang bersumber dari ilahi akan merasuk
ke dalam hati dan pikIran generasi pembangun bangsa dan negara ini.
Pengembangan
IPTEK perlu mendapat perhatian khusus dari para pemimpin negara
islam. Dengan penguasaan IPTEK-lah negara islam dapat menduduki
posisi penting dan sejajar dengan negara maju di dunia. Dengan itu
suara negara islam dalam pergaulan global akan didengar dan disegani.
Sangat disayangkan, pengembangan IPTEK di negara islam amat minim.
Hanya beberapa negara yag serius dalam pengembangan IPTEK, seperti
Iran.
Iran patut menjadi teladan bagi negara islam
lainnya. Dengan semangat nan gigih, Iran telah berhasil membangun
proyek pengadaan uranium untuk pembuatan energi nuklir. Walaupun
resolusi DK PBB menghadang, Iran tetap pada pendiriannya. Karena bagi
umat islam, fungsi utama nuklir bukanlah alat perang tapi alat
pemberi energi kesejahteraan. Dengan lantangnya pemimpin Iran,
Ahmadinejad, menentang kebijakan negara adidaya arogan, Amerika
Serikat dan sekutunya yang berusaha menghalau program nuklir ini.
Meraka takut akan kehilangan hegemoninya yang selama ini mereka
bangun. Meraka khawatir akan munculnya negara islam adidaya seperti
dahulu kala telah menghancurkan peradaban barat menuju peradaban
islam. Iran telah menunjukkan bahwa negara islam bukanlah negara
boneka dan tak berdaya untuk di atur dengan seenaknya. Iran telah
menunjukkan bahwa negara islam adalah negara mandiri yang bebas dari
tipu daya kotor.  Sudah selayaknya negara islam yang lain bercermin
pada keberhasilan dan keberanian Iran.

Leave a Reply