Maknai Hari Pahlawan dengan Pergerakan Nyata
Maknai
Hari Pahlawan dengan Pergerakan Nyata
Aep Saepudin
Merdeka ….. merdeka …… itulah kata favorit
ketika dahulu bangsa ini tertindas diliputi belenggu penjajahan. Penjajahan yang menekankan pada
pemboikotan materi dan tenaga manusia. Kala itu, imperialisme dan kolonialisme
merebak di penjuru bumi pertiwi. Tak sedikit korban jiwa berjatuhan. Tak sedikit
tetesan keringat dan darah keluar dari tubuh pejuang bangsa ini. Tanpa pamrih,
tanpa puji dan balas budi mereka berjuang tuk menggapai satu kata …. MERDEKA !!
Hidup terhina atau mati mulia. Mungkin prinsip itulah yang melekat dalam dada
mereka. Kata yang membuat bara api perjuangan menggelora dalam relung jiwa raga
mereka.
Dulu pahlawan bangsa ini, berjuang
keras memberantas penyiksaan fisik yang dilakukan kaum penjajah, sang pemeras
darah tak berdosa. Bangsa kita dengan mudahnya tertipu oleh propaganda mereka.
Harta, tahta, dan mahkota mereka tawarkan pada masyarakat pribumi demi
kepentingan sepihak. Sumber daya alam terkurap, sumber daya manusia kita
tertindas. Bumi pertiwi menangis.
Sampai detik
ini, kondisi tersebut masih belum lenyap dalam jiwa ibu pertiwi ini. Penjajahan
masih menaungi kehidupan bangsa. Penjajahan sekarang tidaklah seperti dulu. Penjajahan
sekarang adalah penjajahan modern yang memeras sumber daya materi dan immateri.
Bukan hanya fisik, tetapi juga hati dan pemikiran rakyat terbelenggu dalam
kegelapan. Kemakanah para pahlawan bangsa !?? Kemanakan jiwa-jiwa penerus
pejuang yang mengemban amanah negeri ini !?? Sampai kapankah kita berdiam diri
dalam tempurung penjajahan ini !??
Sudah
saatnya kita bergerak, berjuang, dan menegakkan badan tuk menghadang
gerak-gerik penjajah bangsa. Pahlawanku kum fa andzir !! Ibu pertiwi ini merindukan sosok
pahlawan yang bisa membawa perubahan pada peradaban baru. Peradaban yang
merdeka dari campur tangan kotor pihak asing. Peradaban yang membentuk
masyarakat madani.
Pahlawan harapan bangsa saat ini tak hanya
harus kuat “tangan”nya tetapi juga hati dan pikirannya. Sekarang adalah zaman globalisasi. Zaman dimana
dunia terasa semakin sempit, jarak semakin dekat, dan penggunaan ilmu
pengetahuan dan teknologi marak di penjuru bumi ini. Sudah seharusnya jiwa-jiwa
pengemban warisan para pahlawan terdahulu yaitu kemerdekaan, membekali dirinya
dengan ilmu dan iman tuk mengahadapi penjajahan era globalisasi yang
multidimensional.
Sadarlah wahai sang pengisi kemerdekaan, sang pengemban amanah rakyat !!
Para pahlawan yang syahid dahulu menunggu kontribusimu. Kontribusi yang nyata
dan real untuk kemajuan bangsa ini. Mereka tak memerlukan pujian hampa dengan
perayaan hari pahlawan yang rutin dituliskan dalam agenda kenegaraan. Tapi,
mereka hanya perlu sebuah dobrakan peradaban yang mampu membentengi bangsa ini
dari penjajahan multidimensi.
10 November adalah hari dimana
jasa pahlawan dikenang oleh sebagian masyarakat
Indonesia
. Tapi, apakah masyarakat
memaknai esensi hari tersebut? Ketika bangsa kita sedang menghadapi angka
pengangguran paling sedikitnya 38 juta (Tempo Interaktif 1 Nov), dan utang luar
negeri dan dalam negeri begitu besar, cukupkah kita hanya mengadakan peringatan
Hari Pahlawan 10 November? Ketika hiruk-pikuk tentang terorisme sedang melanda
seluruh negeri, apa pula gunanya memperingati Hari Pahlawan? Apakah peringatan
Hari Pahlawan masih ada artinya, ketika persatuan dan kesatuan bangsa kita
sedang dikoyak-koyak oleh berbagai sentimen negatif kesukuan dan dikotori
pertentangan agama? Sekarang yang kita perlukan adalah sebuah pergerakan yang
mempu menghapus penjajahan ini. Pergerakan yang mampu merubah kondisi bangsa
menuju bangsa madani.
Generasi
Muda Kum fa andzir !!!
Peranan generasi muda sangatlah urgen dalam pergerakan ini. Karena
merekalah sang pewaris tahta kepahlawanan yang potensial dalam mengisi
kemerdekaan. Mengingat situasi yang begini buruk dewasa ini seperti maraknya kisi
kekerasan, hubungan internasional yang memburuk, investasi yang menurun, utang
yang makin menggunung, pengangguran yang makin membengkak, pelecehan
terus-menerus terhadap hukum dan HAM, korupsi yang tetap merajalela, adalah
kewajiban moral angkatan muda dari berbagai golongan, keturunan, suku, agama,
dan aliran politik untuk menjadikan jiwa Hari Pahlawan.sebagai senjata guna
berjuang melawan pembusukan besar-besaran ini.
Hari Pahlawan harus sama-sama kita kembalikan kepada peran (dan
pesannya) yang semestinya. Ini adalah tugas utama bangsa kita, termasuk dari
kalangan pendidikan dan sejarawan. Merekalah yang dapat membuat nama pahlawan
harum dimata dunia. Pendidikan sejarah kepahlawanan hendaklah dapat memotivasi
generasi muda untuk bergerak seperti para pahlawan, ikhlas tanpa pamrih, demi
kemajuan bangsa ini dan dapat mengambil hikmah dari semua perjuangan pahlawan
terdahulu. Jangan hanya mengacu pada aspek normatif akademik seperti hafalan
nama dan peristiwa gugurnya para pahlawan. Angkatan muda harus dididik untuk
menghayati benar-benar semangat pengabdian kepada rakyat dan pengorbanan diri
demi kepentingan nusa dan bangsa.
Dengan tekad bersama untuk menjunjung tinggi-tinggi semangat
revolusioner dalam mengabdi kepada kepentingan rakyat, marilah kita maknai Hari
Pahlawan dengan bergerak dalam naungan barisan pendobrak menuju peradaban
gemilang yang bebas dari penajahan.
February 20th, 2008 at 1:59 am
Merdeka……..!