Archive for December, 2006

Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk mengatasinya

Tuesday, December 12th, 2006

Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk mengatasinya   

Tanda-tanda
Lemah Iman

  1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa
         bersalah
  2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca
         Al-Qur’an
  3. Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti
         terlambat untuk melakukan shalat
  4. Meninggalkan sunnah
  5. Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam
         kebaikan dan sering gelisah
  6. Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat
         Al-Qur’an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya
         dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
  7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
  8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan
         bertentangan dengan syari’ah
  9. Menginginkan jabatan dan kekayaan
  10. Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang
         dikaruniakan oleh Allah
  11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan,
         sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
  12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan
         semestinya
  13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan
         tidak menghindari yang makruh
  14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil,
         seperti membersihkan masjid
  15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
  16. Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan
         sesuatu demi kemajuan Islam
  17. Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti
         menangis dan meratap-ratap di kuburan
  18. Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa
         memiliki bukti
  19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn
         duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi
         kebendaan
  20. Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri

Hal-hal
berikut dapat meningkatkan keimanan kita:

  1. Tilawah Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya, hening
         dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan
         lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah
         sedang berbicara dengan kita.
  2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada
         dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang
         menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan
         kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan
         seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan
         malam sekalipun.
  3. Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal
         dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu
         dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah,
         orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
  4. Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat
         Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.
  5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik
         akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan
         jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi
         orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan
         secara kontinyu.
  6. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat
         kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
  7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika
         kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita
         dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
  8. Berdo’a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah.
         Merasa kecil di hadapan Allah.
  9. Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus
         kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan
         menerima shalat-shalat kita, dan
         senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum
         tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita
         sepanjang
         hari itu.
  10. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran.
         Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun
         dengan melakukan
         perbuatan buruk.
  11. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki
         hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.

Sumber
: www.dudung.net

Maknai Hari Pahlawan dengan Pergerakan Nyata

Monday, December 11th, 2006

Maknai
Hari Pahlawan dengan Pergerakan Nyata

Aep Saepudin

 

Merdeka ….. merdeka …… itulah kata favorit
ketika dahulu bangsa ini tertindas diliputi belenggu penjajahan. Penjajahan yang menekankan pada
pemboikotan materi dan tenaga manusia. Kala itu, imperialisme dan kolonialisme
merebak di penjuru bumi pertiwi. Tak sedikit korban jiwa berjatuhan. Tak sedikit
tetesan keringat dan darah keluar dari tubuh pejuang bangsa ini. Tanpa pamrih,
tanpa puji dan balas budi mereka berjuang tuk menggapai satu kata …. MERDEKA !!
Hidup terhina atau mati mulia. Mungkin prinsip itulah yang melekat dalam dada
mereka. Kata yang membuat bara api perjuangan menggelora dalam relung jiwa raga
mereka.

 Dulu pahlawan bangsa ini, berjuang
keras memberantas penyiksaan fisik yang dilakukan kaum penjajah, sang pemeras
darah tak berdosa. Bangsa kita dengan mudahnya tertipu oleh propaganda mereka.
Harta, tahta, dan mahkota mereka tawarkan pada masyarakat pribumi demi
kepentingan sepihak.
Sumber daya alam terkurap, sumber daya manusia kita
tertindas. Bumi pertiwi menangis.

 Sampai detik
ini, kondisi tersebut masih belum lenyap dalam jiwa ibu pertiwi ini. Penjajahan
masih menaungi kehidupan bangsa. Penjajahan sekarang tidaklah seperti dulu. Penjajahan
sekarang adalah penjajahan modern yang memeras sumber daya materi dan immateri.
Bukan hanya fisik, tetapi juga hati dan pemikiran rakyat terbelenggu dalam
kegelapan. Kemakanah para pahlawan bangsa !?? Kemanakan jiwa-jiwa penerus
pejuang yang mengemban amanah negeri ini !?? Sampai kapankah kita berdiam diri
dalam tempurung penjajahan ini !??

 Sudah
saatnya kita bergerak, berjuang, dan menegakkan badan tuk menghadang
gerak-gerik penjajah bangsa. Pahlawanku kum fa andzir !! Ibu pertiwi ini merindukan sosok
pahlawan yang bisa membawa perubahan pada peradaban baru.
Peradaban yang
merdeka dari campur tangan kotor pihak asing. Peradaban yang membentuk
masyarakat madani.

Pahlawan harapan bangsa saat ini tak hanya
harus kuat “tangan”nya tetapi juga hati dan pikirannya. Sekarang adalah zaman globalisasi. Zaman dimana
dunia terasa semakin sempit, jarak semakin dekat, dan penggunaan ilmu
pengetahuan dan teknologi marak di penjuru bumi ini. Sudah seharusnya jiwa-jiwa
pengemban warisan para pahlawan terdahulu yaitu kemerdekaan, membekali dirinya
dengan ilmu dan iman tuk mengahadapi penjajahan era globalisasi yang
multidimensional.

Sadarlah wahai sang pengisi kemerdekaan, sang pengemban amanah rakyat !!
Para pahlawan yang syahid dahulu menunggu kontribusimu. Kontribusi yang nyata
dan real untuk kemajuan bangsa ini. Mereka tak memerlukan pujian hampa dengan
perayaan hari pahlawan yang rutin dituliskan dalam agenda kenegaraan. Tapi,
mereka hanya perlu sebuah dobrakan peradaban yang mampu membentengi bangsa ini
dari penjajahan multidimensi.

 10 November adalah hari dimana
jasa pahlawan dikenang oleh sebagian masyarakat

Indonesia

. Tapi, apakah masyarakat
memaknai esensi hari tersebut? Ketika bangsa kita sedang menghadapi angka
pengangguran paling sedikitnya 38 juta (Tempo Interaktif 1 Nov), dan utang luar
negeri dan dalam negeri begitu besar, cukupkah kita hanya mengadakan peringatan
Hari Pahlawan 10 November? Ketika hiruk-pikuk tentang terorisme sedang melanda
seluruh negeri, apa pula gunanya memperingati Hari Pahlawan? Apakah peringatan
Hari Pahlawan masih ada artinya, ketika persatuan dan kesatuan bangsa kita
sedang dikoyak-koyak oleh berbagai sentimen negatif kesukuan dan dikotori
pertentangan agama? Sekarang yang kita perlukan adalah sebuah pergerakan yang
mempu menghapus penjajahan ini. Pergerakan yang mampu merubah kondisi bangsa
menuju bangsa madani.

 

Generasi
Muda Kum fa andzir !!!

Peranan generasi muda sangatlah urgen dalam pergerakan ini. Karena
merekalah sang pewaris tahta kepahlawanan yang potensial dalam mengisi
kemerdekaan. Mengingat situasi yang begini buruk dewasa ini seperti maraknya kisi
kekerasan, hubungan internasional yang memburuk, investasi yang menurun, utang
yang makin menggunung, pengangguran yang makin membengkak, pelecehan
terus-menerus terhadap hukum dan HAM, korupsi yang tetap merajalela, adalah
kewajiban moral angkatan muda dari berbagai golongan, keturunan, suku, agama,
dan aliran politik untuk menjadikan jiwa Hari Pahlawan.sebagai senjata guna
berjuang melawan pembusukan besar-besaran ini.

Hari Pahlawan harus sama-sama kita kembalikan kepada peran (dan
pesannya) yang semestinya. Ini adalah tugas utama bangsa kita, termasuk dari
kalangan pendidikan dan sejarawan. Merekalah yang dapat membuat nama pahlawan
harum dimata dunia. Pendidikan sejarah kepahlawanan hendaklah dapat memotivasi
generasi muda untuk bergerak seperti para pahlawan, ikhlas tanpa pamrih, demi
kemajuan bangsa ini dan dapat mengambil hikmah dari semua perjuangan pahlawan
terdahulu. Jangan hanya mengacu pada aspek normatif akademik seperti hafalan
nama dan peristiwa gugurnya para pahlawan. Angkatan muda harus dididik untuk
menghayati benar-benar semangat pengabdian kepada rakyat dan pengorbanan diri
demi kepentingan nusa dan bangsa.

Dengan tekad bersama untuk menjunjung tinggi-tinggi semangat
revolusioner dalam mengabdi kepada kepentingan rakyat, marilah kita maknai Hari
Pahlawan dengan bergerak dalam naungan barisan pendobrak menuju peradaban
gemilang yang bebas dari penajahan.

 

 

 

 

Ikhwan Sejati

Friday, December 8th, 2006

IBU…CERITAKAN AKU TENTANG IKHWAN
SEJATI…

 

Seorang
remaja pria bertanya pada ibunya:

Ibu,
ceritakan padaku tentang ikhwan sejati…

 

Sang
Ibu tersenyum dan menjawab…

 Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya
yang kekar,

tetapi
dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya….

 

Ikhwan
sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang,

tetapi
dari kelembutannya mengatakan kebenaran…..

 

Ikhwan
sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya,

tetapi
dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa …

 

Ikhwan
sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi
bagaimana dia dihormati didalam rumah… 

 

Ikhwan
sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan,

tetapi
dari sikap bijaknya memahami persoalan…

 

Ikhwan
sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang,

tetapi
dari hati yang ada dibalik itu…

 

Ikhwan
sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja,

tetapi komitmennya
terhadap akhwat yang dicintainya…

 

Ikhwan
sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan,

 tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku
kehidupan…

 

Ikhwan
Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran,

tetapi
dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca…

 

….setelah
itu, ia kembali bertanya…

 

"
Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?"

 

Sang
Ibu memberinya buku dan berkata…. "Pelajari tenteng dia…" ia pun
mengambil buku itu

 

"MUHAMMAD",
judul buku yang tertulis di buku itu