Pemuda-Mahasiswa
Akselelator Kebangkitan Bangsa
Aep
Saepudin
“Kami ceritakan kisah mereka
kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah
pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka (Sang Pencipta), dan Kami
tambahkan kepada mereka petunjuk”.
(Q.S. Al-Kahfi : 13)
Wahai pemuda bangkitlah !!!
28
Oktober 1928 merupakan tahun bertuliskan tinta emas dalam sejarah kebangkitan
bangsa
Indonesia
.
Pada tahun tersebut pemuda dari berbagai daerah memainkan peranan penting
menuju persatuan dan kesatuan bangsa. Tekad bersatu dalam bahasa, bangsa, dan
tanah air
Indonesia
tertanam dalam hati dan jiwa mereka. Wong Java, wong Celebes, wong
Ambon
, dan wong lainnya berkumpul demi mewujudkan satu
tekad, satu kata, satu barisan, dan satu perjuangan, perjuangan menuju gebang
persatuan dan kesatuan.
Perbedaan
bahasa, suku, keturunan, dan rasial haruslah ditimbun. Penjajahan tak akan
berhenti tanpa persatuan dan kesatuan dari bangsa ini. Tanamkanlah kata satu
nusa, satu bangsa, satu bahasa, satu
Indonesia
. Tonjolkan persamanaan
dan simpanlah perbedaan Perbedaan bukanlah penghalang dan penghambat dalam
persatuan. Perbedaan adalah modal yang perlu didaya gunakan demi kejayaan
bangsa ini. Itulah prinsip pemuda dahulu dalam berjuang mengusir penjajahan dan
menegakkan panji kebenaranan.
“Berikanlah
aku
lima
pemuda, niscaya aku akan merubah dunia.” Perkataan tersebut terucap dari lisan
presiden pertama kita, Soekarno. Ketika muda, Soekarno amat peduli dengan
permasalahan bangsa. Beliau berusaha mencari jalan keluar guna menentang
penjajahan asing yang menyengsarakan rakyat. Semangat dan keberaniannya dalam
perjuangan menuju kebangkitan bangsa perlu kita tiru. Pidato berjudul
“Indonesia Menggugat” adalah sebagian kecil karya beliau yang berpengaruh dalam
kebangkitan bangsa ini. Soekarno berhasil meraih cita-cita kemerdekaan
Indonesia
karena memegang teguh idealisme, integritas dan konsistensi perjuangan yang
tidak pernah gentar terhadap kekejaman dari kekuasaan penjajah yang
menyengsarakan dan memiskinkan rakyat. Jadi, pola pikir dan sikap mental founding
fathers sangat perlu dimiliki oleh generasi muda saat ini demu terwujudnya
keadilan dan kejayaan bangsa.
Kemanakah
Soekarno-Soekarno zaman sekarang? Tatkala bangsa ini dilanda kesedihan. Ketika
uluran tangan-tangan rakyat kecil menanti bantuan hidup dan ratapan kemiskinan
menyelimuti ibu pertiwi. Bangunlah pemuda. Tegapkan badanmu. Bulatkan tekadmu.
Satukan perjuanganmu untuk mempercepat kebangkitan bangsa ini.
Ketidakadilan
yang kini kian menjepit rakyat miskin patut menjadi fokus perhatian generasi
muda. Gelombang unjuk rasa yang dimotori para pemuda untuk melawan
ketidakadilan merupakan refleksi semangat sumpah pemuda 1928, sekaligus sebagai
kepedulian terhadap kepincangan penegakan hukum. Kepedulian generasi pemuda
terhadap berbagai persoalan bangsa merupakan sarana mengasah daya kritis
sekaligus sebagai bekal bila kelak menerima estafet kepemimpinan.
Potensi Besar
Pemuda-Mahasiswa dalam Kehidupan Masyarakat
Kontribusi
pemuda dalam perjuangan bangsa demi kebangkitan dan perubahan nasib rakyat tak
akan pernah berakhir. Tahun 1945 dan 1998 merupakan sebagian kecil dari rentetan
periode perjuangan pemuda yang berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah
kebangkitan bangsa.
Proklamasi
Kemerdekaan Repulik
Indonesia
tahun 1945 tercetus akibat peran para pemuda. Mereka yang termasuk dalam
golongan muda terpelajar mendesak golongan tua untuk segera memanfaatkan
kekosongan kekuasaan (vacum of power). Ketika itu Jepang sang penjajah sedang
dilanda kehancuran akibat serangan sekutu Amerika.
Para
pemuda dengan sigap, segera mendesak golongan tua untuk memamnfaatkan
kesempatan ini dengan cara memproklamirkan kemerdekaan. Golongan tua tetap
menolak keinginan para pemuda tersebut karena harus menunggu keputusan dari
pihak Jepang.. hal ini berlanjut dengan kasus pengaman Soekarno ke
Rengasdengklok. Di sinilah para pemuda berdiskusi dan mendesak Soekarno untuk
segera memproklamasikan kemerdekaa, hingga akhirnya Proklamasi Kemerdekaan sepakat
dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945.
1998,
masa reformasi. Pemuda yang sebagian besar adalah mahasiswa berperan dalam
merubah tatanan negara ini menuju arah perbaikan. Kasus unjuk rasa Trisaksi,
Semanggi, dan Kuningan adalah gambaran konkrit dari perjuangan pemuda-mahasiswa
dalam memperbaiki nasib bangsa ini. Harta, waktu, dan jiwa mereka korbankan
demi kepentingan dan kesejahteraan bangsa. Di pundak mereka lah terletak
tanggung jawab yang berat dan mulia untuk melakukan perubahan yang berpihak
pada kepentingan rakyat. Pantaslah jikalau pemuda disebut sebagai harapan
bangsa yang mengemban amanah dalam memperjuangkan hak-hak rakyat.
Demikian keadaan dan peran
golongan pemuda. Kiprah mereka telah terukir indah dalam tinta emas sejarah
bangsa ini. Mereka merupakan tonggak dan potensi besar suatu kehidupan.
Terlebih kelompok pemuda seperti mahasiswa; karena, selain diharapkan oleh rakyat
kecil, peranan mereka pun sangat didambakan oleh kelompok masyarakat lainnya
sebagai pionir perubahan ke arah yang lebih baik. Posisi mereka sebagai
“mahasiswa” memang menjadi peluang bagi mereka untuk mengembangkan potensi
sebesar-besarnya. Tidak heran jika perubahan sosial politik diberbagai belahan
dunia dipelopori oleh gerakan pemuda-mahasiswa. Sebagian sahabat yang menyertai
Rasulullah SAW dalam memperjuangkan Islam – yang akhirnya berhasil menguasai
lebih dari dua pertiga belahan bumi – adalah para pemuda yang menjadi murid
(mahasiswa) Rasulullah SAW.
Pemuda adalah agent of
change potensial
Secara fitrah, masa muda
merupakan jenjang kahidupan manusia yang paling optimal. Dengan kematangan
jasmani, perasaan dan akalnya, sangat wajar jikalau pemuda-mahasiswa memiliki
potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainya. Kepekaan
yang tinggi terhadap lingkungan banyak dimiliki pemuda mahasiswa. Pemikiran
kritis mereka sangat didambakan rakyat. Di mata masyarakat umumnya, mereka
adalah agen perubahan (agent of change) tatkala masyarakat terkungkung oleh
tirani kezaliman dan kebodohan. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika
masyarakat melakukan proses pembangunan. Tongkat estafet peralihan suatu
peradaban terletak di pundak mereka. Baik buruknya nasib rakyat kelak,
bergantung pada kondisi pemuda dan mahasiswa sekarang ini.
Namun, potensi tinggallah
potensi. Ibarat pedang yang sangat tajam; ketajamannya tidak menjadi penentu
bermanfaat-tidaknya pedang tersebut. Orang yang menggenggam pedang itu-lah yang
menentukannya. Pedang yang tajam terkadang digunakan untuk menumpas kebaikan
dan mengibarkan kemaksiatan, jika dipegang oleh orang yang tidak bertanggung
jawab. Sebaliknya, jika berada di tangan orang yang bertanggung jawab,
ketajaman pedang itu akan membawa manfaat. Demikian juga dengan potensi
mahasiswa. Potensi yang begitu hebat itu bisa dipergunakan untuk menjunjung
tinggi kebaikan, bisa juga untuk memperkokoh kejahatan dan kedurjanaan. Itulah
sebabnya, begitu banyak contoh pemuda-mahasiswa yang berjasa menjadi pilar
penentu kemajuan suatu peradaban, tetapi tidak sedikit di antara mereka yang
mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi peradaban, dan menghancurkan kemuliaan
suatu tatanan kehidupan.
daun-daun berguguran
mengering, hancur dan
terombang ambing dalam kefanaan kehidupan bangsa
cucuran keringat, darah,
tetesan air mata rakyat
membasahi pakaian ibu
pertiwi
tangisan anak kecil dan
ratapan wajah muram
menunggu senyuman bahagia dan
uluran tangan sang pembaharu
jiwa muda jiwa pembangkit
pembangkit
kejayaan negeri
darah
muda darah pengorbanan
pengorbanan
lurus dan suci
jerih
payah pemuda jerih payah bangsa
hai jiwa berkemul selimut
bangunlah dari tidur
nyenyakmu
bersihkan badan dan
pakaianmu
sigap, tanggap, dan peka
dalam perjuanganmu
majulah wahai pejuang muda, pejuang harapan bangsa
dalam
satu cita, satu tekad, dan satu perjuangan
perjuangan
menjemput kebangkitan dan kejayaan negeri ini
Potensi yang dimiliki oleh
pemuda-mahasiswa haruslah diarahkan untuk menyokong dan mempropagandakan
nilai-nilai kebaikan. Seorang mahasiswa tentunya akan berada di garis depan
untuk membela, memperjuangkan, dan mendakwahkan nilai-nilai akhlakul karimah.
Seorang mahasiswa tidak layak hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan di
tengah kemunduran rakyat yang sangat memprihatinkan ini. Seorang mahasiswa
jangan sampai menjadi penghalang kemajuan bangsa dan perjuangan menuju
kebangkitan Indonesia. Bersemangatlah dan lakukan yang terbaik. Merdeka !!!